h e a v i e r t h a n h e l l

  • Archive
  • RSS
  • Just asking it!!
  • Submit here!!
Aku takut akan selalu menjadi angka kesepian seperti akar tiga. Hanya tiga yang kumiliki. Kenapa harus kusembunyikan tiga-ku di bawah tanda akar kuadrat yang kejam. Kuharap aku angka sembilan. Karena sembilan dapat mengalahkannya hanya dengan aritmetik sederhana. Aku tahu takkan melihat matahari, seperti 1,7321. Seperti kenyataanku, bilangan irasional yang menyedihkan. Ketika, hey, apakah ini yang kulihat? Sebuah akar tiga yang lain, yang menari mendekatiku. Bersama kita mengalihkan, membentuk angka yang kita inginkan dan bersatu menjadi bilangan bulat. Kita mendobrak ikatan abadi, dengan ayunan tongkat sihir. Tanda akar kuadrat kami terlepas dan cinta untukku telah kembali.
Kumar Patel.
  • 5 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

There’s a STORY…

Aku melihat mereka berdiri di pintu gerbang kampus mereka. Aku melihat ayahku berjalan dibawah lengkungan batu paras kuning tua, ubin merah berkilau seperti warna darah yang melengkung dibelakang kepalanya. Aku melihat ibuku dengan beberapa buku tipis di pinggangnya, berdiri dekat pagar yang dibuat dari batu bata dengan pintu gerbang dari besi, dan masih terbuka dibelakangnya, dengan ujung yang tipis-tipis beruncing tajam hitam. Mereka akan lulus kuliah, mereka akan menikah, mereka belum dewasa, mereka bodoh, dan yang mereka tahu adalah mereka masih lugu, mereka tak akan menyakiti siapapun. Aku ingin kesana dan berkata, “Hentikan, jangan lakukan hal itu. Dia wanita yang tak tepat, dia pria yang salah. Kalian akan melakukan hal yang tak bisa kalian bayangkan nantinya. Kalian akan melakukan hal buruk bagi anak-anak. Kalian akan menderita dengan cara yang tak pernah kalian dengar, kalian ingin mati”. Aku ingin menemui mereka disana, di akhir bulan september dan mengatakan hal itu. Tapi aku tak melakukannya, aku ingin hidup. Aku membawa mereka seperti boneka kertas, berbentuk pria dan wanita, dan menyatukan mereka diatas pinggang seperti geretan, seperti ada kilatan api dari mereka. Aku berkata, “lakukan apa yang ingin kalian lakukan, dan akan kuceritakan hal itu”. *kisah ini diadaptasi dari perjalanan hidup seseorang yang merasa dirinya tidak pantas mendapatkan bentuk kasih sayang dari siapapun*

  • 6 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

There’s journey and happiness.

Aku sudah mengalami banyak hal, dan sekarang aku sudah temukan apa yang diperlukan untuk kebahagiaan. Menyendiri di kesunyian didaerah terpencil, dengan kemungkinan bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, dan bagi mereka yang tak biasa melakukannya sendiri. Dan bekerja dengan satu harapan yang mungkin bisa bermanfaat. Lalu beristirahat, menikmati alam, baca buku, mendengarkan musik, jatuh cinta pada anak tetangga. Itulah ide kebahagiaan menurutku. Dan kemudian, diatas itu semua, kau memiliki belahan jiwa, dan punya anak mungkin. Apa lagi yang didambakan hati seorang pria? :)

  • 6 months ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

‘Naked in the Oasis and playing Violin Insensible’

(By: Radit)

Senja. Pada saat itu jarum pendek berada di angka empat, sama halnya dengan jarum panjang. Saat itu aku di gazebo kampus biruku, saat itu aku merasakan angin sore hingga menggigil, terik matahari yang mulai sayu meredup dan aliran darah nadiku pun melambat dengan drastisnya, detik demi detik. “And I think to my fucking self, what a wonderful world…….” Lirih, sendu dan penuh perasaan aku menyanyikan sedikit bait dari lagu “What a wonderful fucking world”. Aku tersenyum lemas, serasa Louis Armstrong ikut bernyanyi bersamaku sambil menghisap sebatang ganja dari Kingston Town. Aku akan ikhlas, jika hari itu aku dibunuh atau bahkan kiamat.

Sayangnya saat itu aku tidak dibunuh, bahkan bukan akhir dari dunia. Saat itu hari jum’at, saat itu senja, saat itu detik dan menit berjalan kian lambat, saat itu aku berada dikeheningan gazebo kampus biruku dengan bau cat yang masih baru, saat itu aku merasakan sedikit kenikmatan temporer yang diberikan alam hijau sadarku. Dan saat itu aku sendiri.

Suasana senja hari itu sungguh melankolis, gambaran langit yang memerah, daun-daun mati berjatuhan dan burung gereja yang berkicau bergantian. Semua keindahan itu membuatku bertanya-tanya “Apa ini yang dinamakan harmoni?”. Aku serasa dihibur oleh alam semesta dan pikiran yang nihil. Sengatan bau cat tembok dan suara bising kendaraan peninggalan abad ke-20 yang menjadi nilai minus pada hari itu, serta kebimbangan yang ada dibenakku.

Bimbang, saat itu jiwaku seperti tersesat. Mendramatisir situasi dan menanti detik-detik kepalsuan diri. Seakan aku berada di tengah-tengah padang pasir sumeria dan hanya membawa termos air yang kosong. Terik matahari begitu menyengat diseluruh tubuhku dan rasa dahaga yang kian lama mengeringkan aliran air dilorong tenggorokanku. Aku mencoba bertahan hidup di padang pasir itu, ratusan kilometer aku berjalan, meski rasa pegal terus menusuk dan puluhan fatamorgana sempurna kualami.

Disaat kaki tak sanggup menahan lelah yang mendesak dan disaat rasa dahaga akan air segar sudah diujung batasnya, aku melihat sebuah kedai minuman yang sepi dan seorang pelayan cantik yang berada di tengah-tengah padang pasir. Sejenak aku berpikir kedai itu hanya salah satu kreasi dari puluhan fatamorgana yang kujumpai disaat berjalan mengarungi gurun sumeria ini. Namun, pelayan cantik itu terus memanggil dan berkata “Mampirlah, disini ada minuman. Ini bukan imajinasi yang diciptakan oleh rasa haus anda, tuan. Mampirlah!”. Aku langsung bergegas menuju kedai yang sederhana itu dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Dengan penuh keyakinan aku berkata “Minuman apa yang paling enak di kedai ini, nona?”. Pelayan cantik itu tak berkata-kata lagi, pelayan cantik itu langsung membuatkanku minuman didapurnya. Tak lama kemudian, minuman itu telah siap dan aku bertanya pada pelayan cantik itu “Minuman apa ini, nona? Minuman ini tampak seperti air putih biasa dan akan habis dengan dua tegukan saja”, dia menjawab dan menjelaskan “Aku menamakan minuman ini ‘Naked in the Oasis and playing Violin Insensible’, tuan. Disaat anda meminumnya, anda akan merasakan kesegaran air yang luar biasa hebatnya. Ditegukan pertama, imajinasi otak akan menuntun anda telanjang di sebuah oasis yang paling indah. Dan ditegukan kedua, imajinasi anda berasa memainkan biola yang tak terlihat bentuknya, tapi suara dari biola itu akan sangat hidup dan terdengar sangat merdu di telinga anda, tuan. Silahkan dicoba tuan”.

Setelah menghabiskan minuman itu, apa yang dikatakan pelayan cantik itu benar. Aku serasa di tengah oasis yang dipenuhi mata air, air yang berwarna biru, angin yang berhembus sepoi-sepoi dan aku telanjang didalam imajinasiku. Tak lama, tanganku bergerak sendiri, serasa aku memainkan biola yang transparan bentuknya dan menghasilkan nada-nada yang sangat merdu. Indah memang, tapi semua itu hanya perumpamaan dari ketidakpastian situasi. Semua ini hanya rangkaian kata-kata kiasan yang kutujukan untuk seorang wanita yang membuat kebimbangan dihati, serta membuatku berani untuk jatuh hati lagi. Dan aku kembali ke dunia nyata.

  • 1 year ago
  • 1
  • Permalink
  • Share
    Tweet

http://thepiratebay.org/torrent/5516044/Let_It_Be_-_Let_It_Be_1970_DVDrip_Ing_XviD_Barbanegra

Suka The Beatles? Punya film dokumenter “Let it be”? Kalo belom punya, silahkan klik link download via torrent ini… ^^

  • 1 year ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
All compromise is based on give and take, but there can be no give and take on fundamentals. Any compromise on mere fundamentals is a surrender. For it is all give and no take.
Mohandas Gandhi
http://www.brainyquote.com/quotes/authors/m/mohandas_gandhi.html
  • 1 year ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

Four-Twenty ( 420, 4:20, 4/20 )

420, 4:20 or 4/20 (pronounced four-twenty) refers to consumption of cannabis and, by extension, a way to identify oneself with cannabis subculture. The date April 20 is sometimes referred to as “Weed Day” or “Pot Day”. 

The term was coined from a group of teenagers at San Rafael High School in San Rafael, California, United States in 1971. The teens would meet after school at 4:20 p.m. to smoke marijuana outside the school.

The group called itself the Waldos because its members hung out by a wall after school. Writer Ryan Grim, citing interviews with anonymous Waldos, claims that the group met by a statue of Louis Pasteur on the school grounds at 4:20 p.m. to search for an abandoned cannabis crop near Point Reyes that they had heard about. They never found the stash, Grim writes, but smoked plenty of marijuana while looking for it.

High Times Creative Director Steven Hager was the first person to track down the Waldos and publish their account of the origins of the term. Hager wrote an article in October 1998 issue High Times “Are You Stoner Smart or Stoner Stupid?” in which he called for 4:20 PM to be the socially accepted hour of the day to consume cannabis. “I believe 420 is a ritualization of cannabis use that holds deep meaning for our subculture,” wrote Hager. “It also points us in a direction for the responsible use of cannabis.”

On April 25, 2010, Hager called for April 20 to be re-named “Jack Herer Day” as a tribute to the founder of the hemp movement. This speech was given during Jack Herer’s funeral.

  • 1 year ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet
So many people live within unhappy circumstances and yet will not take the initiative to change their situation because they are conditioned to a life of security, conformity, and conservatism, all of which may appear to give one peace of mind, but in reality nothing is more dangerousto the adventurous spirit within a man than a secure future. The very basic core of a man’s living spirit is his passion for adventure. The joy of lifecomes from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun”. Christopher Johnson McCandless
http://www.christophermccandless.net/more.html
  • 1 year ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

John Adams, Quotes about AGNOSTIC.

We think ourselves possessed, or, at least, we boast that we are so, of liberty of conscience on all subjects, and of the right of free inquiry and private judgment in all cases, and yet how far are we from these exalted privileges in fact! There exists, I believe, throughout the whole Christian world, a law which makes it blasphemy to deny or doubt the divine inspiration of all the books of the Old and New Testaments, from Genesis to Revelations.

In most countries of Europe it is punished by fire at the stake, or the rack, or the wheel. In England itself it is punished by boring through the tongue with a red-hot poker. In America it is not better; even in our own Massachusetts, which I believe, upon the whole, is as temperate and moderate in religious zeal as most of the States, a law was made in the latter end of the last century, repealing the cruel punishments of the former laws, but substituting fine and imprisonment upon all those blasphemers upon any book of the Old Testament or New. Now, what free inquiry, when a writer must surely encounter the risk of fine or imprisonment for adducing any argument for investigating into the divine authority of those books? Who would run the risk of translating Dupuis? But I cannot enlarge upon this subject, though I have it much at heart.

I think such laws a great embarrassment, great obstructions to the improvement of the human mind. Books that cannot bear examination, certainly ought not to be established as divine inspiration by penal laws. It is true, few persons appear desirous to put such laws in execution, and it is also true that some few persons are hardy enough to venture to depart from them. But as long as they continue in force as laws, the human mind must make an awkward and clumsy progress in its investigations. I wish they were repealed. The substance and essence of Christianity, as I understand it, is eternal and unchangeable, and will bear examination forever, but it has been mixed with extraneous ingredients, which I think will not bear examination, and they ought to be separated.

Source: quotes.liberty-tree.ca

  • 1 year ago
  • Permalink
  • Share
    Tweet

Write one leaf describing the moment you first saw either of the World Trade Center buildings collapse.

Source: writeoneleaf

  • 1 year ago > writeoneleaf
  • 41
  • Permalink
  • Share
    Tweet
← Newer • Older →
Page 1 of 2

About

Avatar i'm a man who can think unusual than any person. try me.

Me, Elsewhere

  • @febryraditya on Twitter
  • My Skype Info

Twitter

loading tweets…

  • RSS
  • Random
  • Archive
  • Just asking it!!
  • Submit here!!
  • Mobile

Effector Theme by Carlo Franco.

Powered by Tumblr